 Dari Abu Hurairah ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, "Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah”. (H.R. Muslim, Ahmad, dan Ibnu Majah) Imam Ahmad meriwayatkan hadits di atas dalam kitab Musnadnya, dan Ibnu Majah dalam kitab Sunan-nya pada bab At Tawakkal wa al-yaqin (Ketawakkalan dan keyakinan). Sedang Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahihnya pada bab Fi al-amri bi al-quwwati wa tarki al-ajzi wa al-isti'ânati billahi wa tafwiedhi al-maqdir lillahi (Perintah kuat dan meninggalkan kelemahan, memohon pertolongan kepada Allah dan menyerah- kan keputusan hanya kepada Allah). Jadi menurut pemahaman Imam Muslim, dalam hadits ini sekurang-kurangnya mengandung tiga hal penting yang harus dikaji. Yaitu pentingnya kekuatan, keharusan memohon pertolongan Allah, dan ridha terhadap taqdir-Nya.
Allah Ta'alaa lebih mencintai kekuatan daripada kelemahan. Meskipun pada kelemahan itu ada juga terkandung kebaikan jika dihadapi dengan tabah, sabar dan ridha. Sebagaimana dalam kekuatan juga mengandung keburukan jika dijadikan alasan berlaku angkuh dan sombong. Kekuatan memberi banyak peluang bagi berbuat kebaikan apa yang tidak disediakan dalam kelemahan. Karena sebagian besar dari kebaikan itu harus dikerjakan dengan bantuan kekuatan yang memadai. Seorang mukmin yang kuat akan lebih banyak dapat berbuat kebaikan dibanding dengan mukmin yang lemah dalam banyak hal. Sayyid Muhammad Nuh, dalam bukunya Taujihat Nabawiyah 'Ala ath Thariq, menginventarisir di antara beberapa keistimewaan kekuatan dibanding kelemahan bagi seorang mukmin :
Pertama, dengan kekuatan yang dimiliki seorang mukmin dapat melakukan amar makruf nahy munkar melalui tangan, lisan dan hati secara sempurna dan efektif. Sedang mukmin yang lemah hanya dapat mencegah kemunkar- an dengan hatinya, atau paling tinggi dengan lisannya saja. Sebab jika seorang mukmin yang lemah mencegah kemungkaran dengan tangan atau lidahnya, bisa jadi malah menimbulkan kemunkaran lain yang lebih buruk akibatnya daripada ke- mungkaran yang dicegahnya itu.
Kedua, dalam syariat Islam ada perintah berjihad yang menuntut pengorbanan harta dan jiwa raga. Maka orang-orang mukmin yang kuat ekonominya, kuat fisik jasmaninya, dan kuat juga posisi-kedudukannya, akan lebih besar memberi konstribusi kepada penegakkan agama Islam dibanding dengan mukmin manapun yang diliputi kelemahan. Ketidak-berdayaan kaum mukminin mencegah berbagai invasi kemungkaran kaum kuffar dan kaum jahiliyah dalam segala aspek kehidupan dewasa ini salah satu penyebab utamanya adalah karena mayoritas ummat masih tenggelam dalam kubang kelemahan.
Ketiga, seorang mukmin yang kuat akan lebih memungkinkan tabah dalam menghadapi cobaan hidup dan penderitaan di jalan perjuangan. Bagaimanapun tidak disukainya cobaan penderitaan, namun itu adalah konsekwensi perjuangan di dalam menegakkan kebenar- an ilahi. Apakah cobaan yang datang dari penyakit, bencana alam, keluarga, maupun cobaan yang ditimpakan musuh-musuh kebenaran.
Keempat, kekuatan merupakan modal utama bagi menegakkan pengabdian kepada Allah. Shalat, pusa, zakat hajji, dan ibadah-ibadah lainnya semua menuntut kekuatan dalam pelaksanaan nya. Orang-orang yang lemah akan mengalami kesulitan sekalipun hanya untuk berdiri shalat atau berlapar-lapar puasa. Apalagi untuk menunaikan zakat dan berangkat haji ke tanah suci. Mereka tidak dapat menunai- kan ibadah secara sempurna, bahkan yang ada dan ringan sekalipun malah diberi rukhsah syar'iyah, kemudahan dan dispensasi hukum syariat. Berdiri shalat diganti dengan duduk, wudhu dirubah jadi tayamum, puasa diganti dengan fidyah. Bahkan zakat dan haji menjadi gugur karena ketidak-mampuannya.
Membangun Kekuatan Mental
Karena demikian pentingnya arti kekuatan dalam menegakkan kebenaran maka suatu keniscayaan bagi kaum mukmin untuk membangun kekuatan dirinya. Baik itu kekuatan individual maupun kekuatan komunalnya, baik kekuatan mental-spiritual maupun kekuatan fisik-materilnya. Namun sebelum membangun kekuatan komunal itu, mesti diawali dengan membangun kekuatan individual. Dan kekuatan individu mukmin secara fisik-jasmani dewasa ini sangat meyakinkan tidak akan tertinggal dengan umat yang lain. Maka masalah nya justru berada pada kekuatan ma'nawiyah-ruhaniyah atau kekuatan mental-spiritual. Untuk itu, setiap mukmin wajib terlebih dahulu membangun kekuatan ma'nawiyah-ruhaniyah nya melalui beberapa cara seperti :
Pertama, menanamkan keikhlasan di dalam hati. Ikhlas adalah kekuatan spiritual yang amat penting bagi seorang mukmin. Sebab dengan keikhlasan seorang mukmin dapat mengoptimalkan potensi kekuatan lainnya yang terdapat di dalam dirinya ketika menunaikan setiap tugas dan kewajiban hidup; baik kepada Tuhannya maupun kepada sesamanya. Karena itulah syetanpun tidak akan sanggup menyesatkan pribadi-pribadi mukmin yang ikhlas.
Kedua, menyingkirkan semua perasaan malas dan lemah. Banyak kesempatan emas yang kita miliki terlewatkan dengan sia-sia bukan karena kita tidak punya kekuatan untuk mengambil manfaat daripada nya, tetapi dikarenakan oleh perasaan lemah dan kemalas- an mental kita. Banyak hal positif yang dapat kita perbuat dengan kekuatan yang kita miliki namun semuanya urung kita lakukan hanya karena malas atau perasaan lemah.
Pantas jika Rasulullah saw sangat membenci sifat malas dan lemah kemauan ini. Salah satu do'a beliau yang sering diulang-ulang adalah agar dilindungi dari sifat malas dan lemah. "Ya Allah, aku berlidung kepada Engkau dari kelemahan dan kemalasan…".
Ketiga, antusias dalam mencari segala kemanfaatan dan menyadari mahalnya kesempatan. Sekiranya manusia menyadari betapa sempitnya waktu yang dimiliki didunia dan betapa banyak nya tugas kewajiban yang harus dikerjakan dan diper tanggung-jawabkan di hadapan Allah kelak, maka tidak akan ada orang yang membiarkan dirinya tenggelam dalam kemalasan.
Kemudian dia tidak akan membiarkan dirinya terbenam dalam kelemahan seorang diri, melainkan akan bergabung dengan orang lain untuk membangun kekuatan ber- sama-sama. Wallahu A’lam bishshowab.-
Jeje Zainuddin, M.Ag
|